Wednesday, April 16, 2008

Kaya karena Bisnis atau Warisan


M Fajar Marta / Joice Tauris Tanti

Ada pepatah yang mengatakan, ada tiga cara menjadi kaya, yaitu memperoleh warisan, menikah dengan orang kaya, dan bekerja lebih keras.

Menurut laporan Asia Pacific Wealth Report 2007 yang dikeluarkan oleh Capgemini dan Merrill Lynch, Maret 2007, wilayah Asia Pasifik memiliki 2,6 juta orang kaya dengan dana sebesar 1 juta dollar AS atas aset-aset finansial, tidak termasuk rumah utama. Kelompok ini disebut sebagai high net worth individual (HNWI). Jumlah HNWI di Asia Pasifik ini naik 8,6 persen dari 2005 dan lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan global yang 8,3 persen pada 2006.

Indonesia merupakan negara yang memiliki pertumbuhan orang kaya tercepat ketiga di dunia, sebesar 16 persen pada tahun 2006. Singapura dan India menempati urutan pertama dan kedua, masing-masing dengan pertumbuhan sebesar 21,2 persen dan 20,5 persen tahun 2006.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup baik mendorong pula pertumbuhan orang kaya di kawasan Asia Pasifik. Pertumbuhan ditopang oleh konsumsi pemerintah dan swasta serta investasi dan produktivitas di kawasan. Selain itu, pasar modal juga berkembang dengan pesat di tengah merebaknya isu flu burung dan tingginya harga minyak.

Kinerja indeks di Bursa Efek Jakarta, sekarang Bursa Efek Indonesia (BEI), juga membantu Indonesia menjadi tanah air bagi salah satu pertumbuhan populasi HNWI tercepat di dunia. Kapitalisasi pasar BEI naik 70,6 persen dan indeks naik 55,3 persen tahun 2006 sehingga BEI menjadi bursa berkinerja terbaik di antara sembilan bursa terbaik di dunia pada tahun itu. Faktor tersebut membantu perkembangan populasi hingga 16 persen tahun 2006. Kekayaan kelompok ini mencapai 71,2 miliar dollar AS pada akhir 2006.

Secara umum, memiliki bisnis atau menjual sebuah bisnis merupakan sumber utama akumulasi kekayaan. Data dari laporan itu menunjukkan, HNWI di Indonesia 51 persen mendapatkan kekayaannya dari bisnis dan 15 persen dari pendapatan. Sebaliknya di Jepang, 30 persen HNWI mendapatkan kekayaan dari warisan dan 28 persen dari bisnis. Warisan juga menjadi sumber kekayaan terbesar di tempat kedua di Hongkong, India, dan Singapura. Sedangkan di Jepang, Indonesia, Korea Selatan, dan Taiwan pendapatan merupakan sumber kedua kekayaan. Di Australia dan China, opsi saham merupakan sumber kekayaan kedua.

Terlihat bahwa menjadi pebisnis lebih besar peluangnya dalam mengumpulkan kekayaan dibandingkan dengan mengandalkan pendapatan atau warisan. Semangat wiraswasta, menciptakan lapangan pekerjaan, dan tidak mengandalkan pihak lain untuk mencarikan lapangan kerja merupakan etos yang seharusnya dikembangkan. Belakangan ini banyak muncul ungkapan ”Jangan lama-lama jadi karyawan kalau ingin kaya”. Mungkin ada benarnya juga. Tentu saja semangat ini harus pula didukung oleh kemampuan berwiraswasta yang tahan banting.

Selanjutnya pendapatan merupakan sumber kekayaan kedua. Selain pendapatan aktif yang didapat dari bekerja, ada pula pendapatan pasif yang didapatkan tanpa bekerja secara fisik. Istilahnya, biarkan uang yang bekerja untuk Anda. Melalui investasi, misalnya. Dana yang ditanamkan dalam deposito, saham, reksa dana, obligasi, dan penyewaan properti memberikan penghasilan tambahan yang dapat diputar lalu diakumulasikan menjadi kekayaan. Asal saja tetap tenang menghadapi situasi seperti sekarang ini dan memiliki pandangan investasi jangka panjang, investasi akan menghasilkan. HNWI di Indonesia mengalokasikan investasinya 34 persen pada properti dan 29 persen saham.

Jadi, mau masuk kelompok HNWI melalui cara yang mana, sepenuhnya terserah Anda.

Diincar

Kelompok nasabah semacam inilah yang diincar bank, diservis sepenuhnya ke mana pun pergi dan apa pun keinginannya. Pendeknya, mereka sangat dimanjakan oleh bank. Pelayanan khusus inilah yang disebut wealth management semakin populer di bank-bank belakangan ini.

Vice President Head Investment Service Bank Permata Karma P Siregar mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang membuat bisnis wealth management marak di Indonesia.

Pertama, mengikuti perkembangan pasar keuangan global, mulai terjadi konvergensi dan penjualan silang (cross selling) produk-produk keuangan, seperti asuransi, multifinance, pasar modal, dan perbankan.

Karena pasar keuangan di Indonesia masih didominasi perbankan, maka perbankanlah yang menjadi pusat dari konvergensi tersebut. Perusahaan asuransi, multifinance, dan manajer investasi beramai-ramai menggandeng bank, mulai dari memanfaatkan jaringan bank yang luas sebagai agen pemasaran hingga kerja sama membuat produk hibrida, yakni campuran produk tradisional bank, seperti tabungan dan deposito dengan produk pasar modal seperti obligasi.

Dari konvergensi inilah muncul juga istilah bancassurance atau produk bank yang diproteksi dengan asuransi.

Akibat tren ini, bank otomatis muncul menjadi lembaga dengan layanan satu atap (one stop service) karena mampu menyediakan seluruh produk dari berbagai lembaga keuangan. Potensi inilah yang membuat bank leluasa menjadi perencana keuangan nasabah, bagian terpenting dari wealth management.

Jenis bisnis bank ini jelas mutlak memerlukan aneka produk keuangan mengingat bisnis ini mengusung konsep untuk melindungi, mengembangkan, dan mewariskan secara bijak kekayaan yang telah ada. Tujuannya melestarikan kekayaan sekaligus membuat kekayaan tersebut benar-benar dapat meningkatkan kualitas hidup dan kebahagiaan pemiliknya.

Kedua, seiring penurunan suku bunga, nasabah tak bisa lagi mengandalkan produk tradisional bank, seperti deposito, untuk mendapatkan imbal hasil yang optimum. Alih-alih mengembangkan kekayaan, nilai riil uang yang ditaruh di deposito sesungguhnya justru turun mengingat bunga deposito neto sudah di bawah inflasi.

Karena itulah, nasabah bank membutuhkan pula produk pasar modal, seperti saham dan obligasi, yang biasanya memberikan imbal hasil yang lebih besar ketimbang deposito berjangka. Untuk mempertahankan nasabahnya, mau tidak mau bank harus menyediakan produk pasar modal yang pengelolaannya bekerja sama dengan manajer investasi. Nasabah yang memiliki banyak uang sehingga bisa mendiversifikasi portofolionya otomatis memerlukan asisten yang senantiasa memberikan informasi tentang segala hal yang terkait dengan keuangannya dan membantunya mengambil keputusan dalam pengelolaan uangnya. Nasabah dengan perlakuan khusus inilah yang dikelompokkan sebagai nasabah wealth management.

Ketiga, persaingan yang kian ketat membuat bank berpikir keras bagaimana mempertahankan nasabahnya tetap loyal. Dulu, pelayanan adalah segala-galanya. Bank yang bisa melayani dengan bagus pasti akan punya banyak nasabah. Namun, kini tidak lagi. Bank yang mampu menyediakan produk beragam dan mampu mengikat nasabahnya pada banyak produklah yang akan memenangi persaingan.

Keloyalan nasabah berbanding lurus dengan seberapa banyak jenis produk yang ia gunakan di satu bank. Jika nasabah hanya memiliki deposito, maka ia memiliki potensi keloyalan yang rendah. Ketika ada bank yang menawarkan suku bunga yang lebih tinggi, potensi ia pindah ke bank tersebut juga tinggi.

Namun, ini akan berbeda dengan nasabah yang selain memiliki deposito juga menggunakan jasa lain seperti kartu kredit, pembayaran telepon, listrik, TV berlangganan, dan telepon seluler di bank yang sama. Terlebih bila ia juga mengambil KPR. Penawaran suku bunga yang lebih menarik di bank lain tidak akan berarti apa-apa dibandingkan betapa repotnya ia memindahkan semua fasilitasnya ke bank lain.

No comments: