Saturday, January 26, 2008

Imagologi Duka Pak Harto


Senin, 21 januari 2008 | 04:36 WIB

Yasraf Amir Piliang

Hari-hari ini, perhatian, perasaan, dan pikiran bangsa Indonesia tercurah pada kondisi mantan Presiden Soeharto yang sedang terbaring sakit. Ada ekstra kesibukan di mana-mana. Para dokter rumah sakit sibuk merawat Pak Harto, para wartawan tak henti memberitakan kondisi beliau, para kerabat silih berganti membesuk ke rumah sakit, para politikus tak bosan-bosan memberikan komentar politik, para simpatisan tak putus-putus memanjatkan doa, bahkan para mistikus ambil bagian memberikan analisis gaib.

Pemberitaan intensif kondisi harian Pak Harto di aneka media mengubah sakit Pak Harto menjadi ”dramatis”. Istilah ”normal”, ”stabil”, ”kritis”, ”ventilator”, ”cairan tubuh”, ”memaafkan” kini menjadi bagian sentral drama publik.

Sakit hiper-real

Sakit itu menjadi sebuah ”wacana” (discourse), ”teks”, dan kumpulan ”tanda-tanda” (sign) untuk dimaknai setiap orang. Sakit itu kini menjadi ’imagologi kesakitan’ (imagology of sickness): keprihatinan, kedukaan, dan empati yang dibangun melalui citra-citra media.

Sakit Pak Harto dimuati pula dengan tafsir-tafsir politik, ekonomi, sosial, spiritual, bahkan mistis. Sakit itu kini dikaitkan dengan kesalahan politik, dosa sosial, peristiwa mistik, bahkan fenomena-fenomena spiritual. Sakit itu tidak saja membentuk opini publik (pro-kontra antara diadili/dibebaskan, dihukum/diampuni), tetapi juga ”histeria massa” (mass hysteria): gejolak keprihatinan, kedukaan, dan empati mendalam.

Sakit Pak Harto kini menjadi hiperteks (hypertext), yaitu kesakitan yang dinarasikan dari hari ke hari melalui media elektronik-digital. Sakit itu pun kini menjadi sakit ”hiper-real”, di mana organ-organ dalam tubuh Pak Harto (jantung, lambung, paru-paru, ginjal, saluran pencernaan) dinarasikan menit per menit dalam format citra virtual-digital di dalam aneka media elektronik, yang memperbesar ”efek” sakit dan kesakitan itu sendiri bagi publik—hyperreality of sickness.

Publisitas duka

Realitas sakit Pak Harto kini menjadi citra duka publik di dalam layar elektronik. Naik turun detak jantung Pak Harto seakan menjadi naik turun detak jantung publik; harap-cemas para dokter seakan menjadi harap-cemas publik; komat-kamit doa keluarga kini menjadi komat-kamit doa publik. Sakit Pak Harto membangun sebuah ruang ”publisitas” duka, keprihatinan dan doa.

Sebagaimana dikatakan Susan Sontag dalam Regarding the Pain of Others (2003), abad informasi mampu menghadirkan kesakitan dan duka seseorang ke hadapan mata setiap orang sehingga membentuk ”duka publik”. Akan tetapi, teknologi informasi tidak saja mampu memindahkan informasi dengan kecepatan tinggi dan secara real time, tetapi juga mampu memberi ”pembesaran efek” (amplifier effect) sehingga duka diri kini menjadi duka setiap orang.

Akan tetapi, citra visual itu tidak selalu merupakan cermin realitas. Citra-citra ”dipilih” untuk satu tujuan tertentu. Mengambil foto berarti membingkai (to frame) dan meminggirkan (exclusion), yaitu menyembunyikan realitas-realitas lain dari mata publik. Narasi visual Pak Harto yang terbaring sakit dibingkai bersama narasi-narasi visual masa kecil, kegigihan, keberanian, dan kepahlawanannya sehingga menggugah empati di hati publik.

Julia Kristeva dalam Black Sun: Depression and Melancholia (1989) mengatakan, duka tidak sekadar fenomena psikis, tetapi menuntut diekspresikan. Duka tidak mungkin hanya disimpan dalam hati, tetapi harus diungkapkan melalui tanda-tanda sehingga menjadi sebuah ”semiotika duka” (semiotics of melancholia). Membesuk, berdoa, meruwat, mengirim bunga, menyampaikan pesan duka adalah bagian dari ’semiotika duka’ itu.

Semiotika duka di abad informasi dapat memberi efek ganda. Di satu pihak, melalui tanda duka, orang mengungkapkan rasa simpati. Di pihak lain, ungkapan duka dapat menjadi media ”publisitas rasa duka”, yaitu memperlihatkan ”ungkapan duka” pada publik untuk mendapatkan efek sosial, ekonomi, politik, maupun kultural.

Meski ungkapan duka sejati bebas dari kepentingan, ungkapan rasa duka dapat pula menjadi sebuah iklan perusahaan, sarana kampanye politik, bahkan publisitas diri.

Duka sebagai pelupaan

Agama-agama mengajarkan ”etika duka”, bahwa dalam suasana duka tidak etis menyebutkan aib, kesalahan, dan keburukan seseorang, dan dianjurkan menyebutkan kebaikan, jasa, dan prestasinya. Duka memiliki dimensi pelupaan yang buruk dan pengingatan yang baik. Duka adalah mistik pelupaan (forgetfulness) dan ”pemaafan” (forgiveness). Adalah terpaan kabut duka yang menyebabkan seorang tokoh besar dapat berbalik memaafkan musuh besarnya.

Namun, seperti dikatakan Richard Rorty dalam Achieving Our Country (1998), pemaafan dan pelupaan dapat berujung pada penipuan sejarah bangsa. Karena, penciptaan sejarah kebanggaan nasional (national pride) tidak melulu melalui cerita pencapaian membanggakan dari tokoh-tokoh sejarah, tetapi juga narasi-narasi menyakitkan sebagai sarana bagi pembelajaran publik tentang ”kejujuran sejarah”. Pemaafan dapat berujung pada ”penguburan sejarah pedih”, tetapi melahirkan ”dendam sejarah”.

Kata maaf adalah ekspresi dari ”kearifan” (virtue), meski kearifan yang kontradiktif karena meniadakan bagian dari esensi kearifan itu sendiri, yaitu ”rasa keadilan”. Memaafkan segala kesalahan Pak Harto di masa lalu sama dengan mengubur rasa kepedihan orang-orang yang diperlakukan tidak adil dari lembar sejarah. Tetapi, tidak mau memaafkan sama sekali bukan pula tindakan bijaksana secara kemanusiaan dan agama. Di sini, sakit Pak Harto meninggalkan dilema historis antara rasa maaf dan rasa keadilan.

Sebagai manusia beragama, kita semestinya berdoa demi kesembuhan Pak Harto. Dan sebagai sebuah bangsa, memberi ungkapan maaf kolektif atas segala kesalahan. Tetapi, di pihak lain tidak menghapus kesalahan dan kejahatan itu dari lembar sejarah dan mata hukum, dengan menghargai pula rasa keadilan para korban kejahatan, adalah sebuah situasi dilematis paling pelik yang dihadapi bangsa ini, sebagai ”batu ujian” bagi reformasi dan demokratisasi.

Yasraf Amir Piliang Ketua Forum Studi Kebudayaan (FSK) FSRD-Institut Teknologi Bandung

No comments: