Monday, May 28, 2007

PERUBAHAN IKLIM
Usia Bumi Tinggal Seabad Lagi?

YUNI IKAWATI

Ketika karbon dari muka bumi terus dilepas ke atmosfer lewat pembakaran bahan bakar fosil dan organik oleh miliaran manusia. Ketika jutaan hektar hutan sebagai pengisap karbon terus ditebang dan kian berkurang. Ketika itulah "bom waktu" mulai bekerja menghancurkan bumi ini.

Gas karbon dan gas pencemar lain, seperti sulfur dan nitrogen, yang tergabung dalam kelompok gas rumah kaca (GRK), akibat aktivitas manusia di berbagai sektor akan terlepas ke udara, terkumpul semakin tebal di atmosfer menyelimuti bumi.

GRK di lapisan udara atas itu, karena proses kimiawinya, akan memerangkap sinar matahari yang menembus atmosfer masuk ke permukaan bumi. Akibatnya, lingkungan planet biru itu menjadi kian panas.

Kondisi suhu bumi yang tak nyaman ini membuat semua sistem yang selama ini berada dalam siklus yang seimbang mulai terganggu. Salah satu yang terusik adalah sistem cuaca, yang pada dasarnya terdiri atas proses pemanasan oleh sinar matahari menjadi uap air yang terkumpul sampai terbentuk awan, lalu diembuskan angin ke daerah yang bertekanan rendah hingga jatuh menjadi hujan.

Tanpa perubahan perilaku dan pola konsumsi manusia, juga tanpa upaya mereduksi emisi GRK untuk mengatasi pemanasan bumi, para pakar yang tergabung dalam Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan usia bumi tinggal 70 tahun hingga seabad lagi.

Proyeksi itu berdasarkan tren kenaikan suhu udara hingga empat derajat Celsius (C). Tingkat itu dapat tercapai bila emisi GRK terus bertambah dalam beberapa dekade ke depan karena tidak ditegakkannya kebijakan mitigasi perubahan iklim dan pola pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Bila melihat data emisi GRK pada kurun waktu 1970 hingga 2004 yang dikeluarkan IPCC awal Mei lalu, emisi GRK naik 70 persen. Tingkat itu disumbangkan dari sektor energi yang mencapai peningkatan 145 persen.

Apa yang terjadi bila suhu rata-rata global naik 2 derajat Celsius? Yang jelas ada sekitar 30 persen spesies yang peka terhadap kenaikan suhu di muka bumi ini akan punah. Hilangnya sepertiga spesies itu berarti mengganggu keseimbangan daur hidup, termasuk mengubah pola penularan penyakit melalui serangga dan hewan. Sementara itu, perubahan pola cuaca meningkatkan kejadian badai dan curah hujan yang tinggi.

Lalu, bagaimana bila temperatur udara naik dua kali lipat menjadi 4C? Dampaknya, antara lain, hilangnya 30 persen lahan basah, naiknya kasus penyakit akibat udara panas, banjir dan kekeringan, mengakibatkan angka kematian naik drastis.

Ancaman kiamat bumi itu, menurut IPCC, dapat dicegah dengan beberapa skenario untuk menurunkan GRK hingga tahun 2030. Skenario terbaiknya adalah menahan kenaikan suhu bumi hanya 2 C-2,4 C sampai 23 tahun ke depan. Untuk mencapai itu, konsentrasi GRK harus distabilkan pada kisaran 445-490 part per million (ppm). Skenario lain menyebutkan, kenaikan dibatasi sekitar 3,2 C hingga 4 C pada kurun waktu yang sama, dengan menjaga jumlah GRK 590-710 ppm.

Saat ini tingkat GRK telah melampaui itu semua. Tahun 2005 konsentrasi GRK antara 400 dan 515 ppm. Menurut IPCC, target itu bisa dicapai jika diterapkan kebijakan mitigasi perubahan iklim di tiap negara, yang harus diambil di sektor energi, transportasi, gedung, industri, pertanian, kehutanan, dan manajemen limbah.

Di sektor energi, misalnya, harus dikeluarkan kebijakan pengurangan subsidi dan penetapan pajak bagi bahan bakar fosil. Sebaliknya, mewajibkan penggunaan dan penetapan harga listrik dari energi terbarukan.

Soal kebijakan yang diterapkan di Indonesia, Kuki Soejachmoen, dari Yayasan Pelangi Indonesia, menilai sudah mengikuti rekomendasi IPCC berupa penerapan energi terbarukan seperti yang tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional, dan penggunaan biofuel pada transportasi publik.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan peresmian Gedung Herbarium Bogoriense di Cibinong Science Center, Rabu (23/5) di Bogor, mengatakan, untuk menyikapi perubahan iklim dan mengantisipasi makin susutnya sumber daya alam harus ditegakkan tiga pilar, yaitu pembuatan kebijakan, perubahan gaya hidup, dan kontribusi teknologi.

Presiden meminta pencarian keuntungan ekonomi hendaknya sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan hidup, misalnya melalui wisata yang berbasis lingkungan hidup atau ekowisata.

Dampak kesehatan

Kenaikan suhu pada dekade mendatang membuat kian banyak korban jiwa berjatuhan akibat gelombang panas, banjir, badai, kebakaran hutan, dan kekeringan. Di sisi lain juga meningkatkan kasus malnutrisi, penyakit seperti diare dan infeksi serta masalah gangguan pernapasan dan jantung.

Menurut kalkulasi yang dilakukan Tony McMichael dari Australia National University, peningkatan suhu di bumi sejak tahun 1970-an telah menimbulkan dampak berupa 166.000 kematian per tahun pada tahun 2000 akibat penyakit, termasuk diare dan malaria.

Kasus tingginya kematian ini terutama di alami negara miskin di kawasan tropis, yang memiliki kemampuan terbatas untuk mengatasinya. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk akan terus meningkat pada masa mendatang.

Penelitian yang dilakukan di Kenya, misalnya, menunjukkan korelasi yang kuat antara kenaikan suhu, hujan yang sangat berfluktuasi, dan penyebaran nyamuk malaria ke dataran tinggi, termasuk Nairobi—ibu kota Kenya—yang sebelumnya terlindung dari ancaman penyakit parasit ini.

Malnutrisi dan penyakit karena kelangkaan air bersih terutama menyerang dunia berkembang. Penelitian di Eropa yang dilakukan The European Centre for Disease Prevention and Control (ECDPC) memperkirakan setiap kenaikan suhu 1C menyebabkan kenaikan 5 C hingga 10 C kasus pencemaran salmonela pada makanan.

Dampak perubahan iklim tidak hanya dialami negara miskin. Negara kaya pun yang umumnya berada di kawasan subtropis tak luput dideranya. Gelombang panas tahun 2003, misalnya, menyebabkan lebih dari 35.000 kematian prematur di Eropa, di antaranya 14.000 terjadi di Perancis.

Suhu yang lebih hangat membuat kasus malaria kembali muncul di Eropa, di antaranya di negara perbatasan, seperti Azerbaijan, Georgia, dan Turki, yang telah dinyatakan tereradikasi penyakit ini setelah Perang Dunia II. Penelitian yang dilakukan ECDPC tahun lalu juga menyimpulkan Uni Eropa akan terancam chikungunya, infeksi akibat nyamuk yang telah menyerang India.

Kasus di Indonesia

Kondisi yang tidak jauh berbeda, seperti merebaknya penyakit parasit akibat vektor nyamuk seperti malaria, demam berdarah, dan chikungunya merebak di berbagai daerah di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir ini terutama pada masa peralihan musim. Kasus penyakit ini dari tahun ke tahun kian banyak menelan korban jiwa.

Pemanasan global, menurut pengamatan Vitus Dwi Yunianto, guru besar Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, juga telah berpengaruh pada merebaknya penyakit pada unggas di Indonesia belakangan ini, termasuk flu burung.

"Dengan temperatur lingkungan yang rata-rata di atas 27 C, pertumbuhan unggas terhambat dan kekebalannya terhadap penyakit berkurang," ujar Vitus saat memaparkan orasi ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar di Semarang, Kamis (24/5).

Cekaman temperatur yang panas itu juga menurunkan metabolisme pada jaringan otot unggas yang dapat menghambat pertumbuhan ayam, menyebabkan kelainan organ dalam tubuh ayam, seperti penurunan ukuran kelenjar tiroid dan adrenalin, serta hati. "Hal ini kemungkinan karena adanya perubahan fungsi endokrin tubuh, dan sitensis protein," papar Vitus.

Untuk mengatasinya, perlu dilakukan penambahan hormonal dengan manipulasi hormonal sehingga mengembalikan ayam dalam kondisi semula. Langkah ini dapat ditempuh dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan mengembalikan fungsi metabolisme tubuh unggas pada kondisi normal saat mengalami cekaman panas. (INU/HAN)

No comments: