Thursday, August 23, 2007

Proses kreatif

Forum untuk Anak Muda dan Semangat Semau Gue

Inilah barangkali salah satu kerepotan yang mulai terasa saat beberapa praktisi media dan seniman senior berdiskusi tentang rencana membuat sebuah program pergelaran musik untuk anak muda di Jakarta. Warna musik yang begitu beragam menyulitkan diskusi membuat perumusan jenis-jenis musik yang dibawakan anak-anak muda.

Banyak pemusik muda yang menolak menyebut warna musik mereka sebagai musik rock, jazz, blues atau pop atau aliran-aliran mainstream lain. Banyak yang buat pengamat musik tradisional lebih terdengar sebagai musik semau gue meski sepintas kadang terdengar seperti musik rock atau jazz, blues atau campuran di antara itu.

Ekspresi kesenian anak-anak muda yang keluar dari mainstream dan sikap mereka yang berseberangan dengan major label membuat para peserta diskusi lalu menyebut musik alternatif anak-anak muda itu dengan sebutan musik indie, istilah yang sebenarnya hanya memperpendek kata independen.

Ketika wacana dari diskusi itu dibawakan lagi ke beberapa band indie di Jakarta, ternyata mereka juga menolak untuk dikategorikan sebagai pemusik indie. "Sebab, begitu kita mengategorikan mereka dalam sebuah kategori bernama indie, mereka merasa dikategorikan sebagai mainstream baru di aliran musik. Padahal, mereka justru bersikap antimainstream," ujar John Malao, mahasiswa jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta, yang menjadi panitia Urban Festival atau Urbanfest 07.

Padahal, Urbanfest 07 adalah sebuah hajatan yang diselenggarakan justru untuk menampung berbagai ekspresi seni dari anak-anak muda. Penyelenggara acara ini, yang merupakan kolaborasi dari pengelola taman hiburan Ancol, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Kelompok Kompas Gramedia, dan Radio Prambors, berniat membuat acara yang bisa menampung sebanyak mungkin warna musik indie, hasil karya anak-anak muda Jakarta dan kota-kota besar lain.

Urbanfest 07 rencananya digelar pada 24-26 Agustus 2007 di Pantai Karnaval Ancol. Agar tidak terjebak pada kategorisasi musik, tetapi sekaligus menegaskan bahwa pergelaran ini hanya diperuntukkan bagi warna musik indie, akhirnya panitia Urbanfest 07 menawarkan menu utama acara itu dengan sebutan cross over indie music atau X-Over Indie Music.

"Dengan penyebutan itu, maka anak-anak muda yang menawarkan musik alternatif dan tidak masuk dalam major label bisa bergabung dalam acara ini. Penyebutan istilah ini efektif, karena begitu dibuka pendaftaran, yang berniat ikut lebih dari 100 band. Kami terpaksa melakukan seleksi sehingga yang tampil lalu dibatasi menjadi sekitar 30-an band untuk festival selama tiga hari," ujar Iwoch dari Radio Prambors.

Pihak penyelenggara juga mengundang beberapa band indie yang, meski tidak bernaung dalam major label, cukup dikenal tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga sering manggung di mancanegara. Beberapa band, seperti The Upstairs, The Brandals, atau Clubeighties serta Kill the DJ yang sudah sangat dikenal di kalangan anak muda, langsung menyatakan kesediaannya begitu diajak bergabung.

Akan tetapi, itu pun masih menuai kritik. "Kalau mau buat pergelaran musik indie, yang perlu dikritik justru nama acara ini. Sebab, musik urban itu bukan hanya musik indie. Jadi, nama Urbanfest sebenarnya terlalu luas jika yang akan ditampilkan hanya musik indie," ujar Marzuki, pengamat musik yang juga pemain grup band Kill the DJ dari Yogyakarta, mengomentari acara ini.

Alih-alih mengakomodasi kritik, pihak penyelenggara malah ikut larut dalam sikap "semau gue" anak-anak muda. Selain menu utama X-Over Indie Music di dua panggung utama, panitia Urbanfest lalu memasukkan lebih dari 40 acara lain ke dalam Urbanfest selama tiga hari.

"Kriterianya hanya satu, semua acara hanya untuk anak muda. Ini sesuai dengan punchline acara ini, nyesel lo kalo ga dateng," tambah Iwoch.

Itulah sebabnya, dari kelompok Kompas-Gramedia beberapa pengelola media yang basis pembacanya anak muda dilibatkan, seperti Majalah Hai, Tabloid Bola, dan Otomotif Group. "Majalah Hai akan menggelar beberapa acara dengan mengundang beberapa komunitas anak muda Jakarta. Tabloid Bola akan menggelar kompetisi futsal, basket 3 on 3, shooting competition, dan voli pantai. Grup Otomotif malah bukan hanya menggelar lomba modifikasi motor, tetapi bahkan juga off-road di areal festival," ujar Gusno dari Otomotif.

Di panggung utama sendiri, selain X-Over Indie Music, akan disajikan kompetisi harajuku, cosplay, dan indie fashion show. "Di depan panggung utama kami juga akan sajikan kompetisi graffiti dan mural. Selain graffiti dalam bentuk panel yang akan dikompetisikan di sekeliling acara, kami juga menyediakan sebuah bus, beberapa rongsokan bangkai mobil serta bajaj sebagai media untuk ekspresi seni graffiti dan mural, Teman-teman dari Institut Kesenian Jakarta akan mengoordinasi acara ini," ujar John Malao.

Maka, jadilah acara campur aduk yang khusus digelar untuk anak muda di areal seluas 6 hektar di Ancol. "Acara ini memang jauh meleset dari rencana semula. Tapi, jika memang bisa menampung segala kegiatan dan berbagai ekspresi kreativitas anak muda Jakarta, kami tidak keberatan. Sebab, toh selama ini belum ada acara yang bisa menampung semua kegiatan anak muda sekaligus," kata Gandung Bondowoso, Wakil Rektor III Institut Kesenian Jakarta (IKJ). (NUG)

No comments: